Karena, mendapati kalian di sisiku ketika membuka mata di pagi hari adalah surga yang ada di bumi. Mari kita bangun dan mencintai hidup ini.
May 2013
2 posts
Terima kasih anakku. Kau membuatku belajar untuk bisa mencintai dengan tulus.
December 2012
1 post
“Kasihilah Tuhan, Allahmu 1 , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Ini cuma penalaran sederhana tentang mengasihi Tuhan Allah. Bukan untuk dijadikan patokan, tapi setidaknya bias menjadi bahan perbandingan.
Mari kita buat rinciannya.
1. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu.
Di sini kita dituntut untuk bisa mengasihi Allah dengan ketulusan, bukan dengan kepura-puraan yang sering kita keluarkan dari mulut kita. Mengasihi dengan hati, berarti mengasihi dengan kejujuran yang ada di dalam diri kita. Umpakan anda mengasihi kekasih anda, saudara anda, orang tua anda dan / atau siapapun itu. Apakah anda mengasihinya dengan mulut saja? Jika mereka tahu bahwa anda mengasihi mereka hanya dengan kepura-puraan, apakah itu akan membuat mereka senang? Tentu tidak. Anda harus mengasihi mereka dengan hati anda. Begitu juga dengan Tuhan Allah. Dia ingin kita mengasihi Dia dengan hati. Karena di hatilah kita murni. Dan lagi, Tuhan Allah kita melihat hati, bukan mulut atau perkataan.
2. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwamu.
Percayakah anda ketika orang yang anda kasihi mengatakan bahwa anda adalah belahan jiwanya? Atau percayakah anda bahwa orang lain adalah belahan jiwa? Jika ya, anda tentu tahu bagaimana caranya mengasihi dengan jiwa. Setelah dengan hati, kita harus mengasihi dengan jiwa, dalam artian bahwa jiwa kita yang merupakan kesadaran rohani, mengakui bahwa ada bagian khusus di dalam dirinya yang memang ditujukan untuk pribadi tertentu. Itulah yang diharapkan Tuhan Allah dari kita. Dia ingin, entitas kesadaran rohani kita itu mengakui bahwa Tuhan Allah bertahta atas diri kita. Jika sudah demikian, maka apapun yang kita lakukan, tentu akan mempertimbangkan dampaknya ke seluruh tubuh kita. Dan ingat, tubuh kita ini bukan hanya daging saja.
3. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap akal budimu.
Kenapa kita dituntut untuk mengasihi dengan akal budi? Karena Tuhan Allah pun mau ketika kita mengasihi Dia, kita tidak mengabaikan semua kewajiban kita sebagai manusia dan berbagai peran yang telah diberikan kepada kita di dunia. Coba bayangkan ketika Tuhan Allah tidak meminta ini, tentu semua manusia akan memilih untuk pergi beribadah saja tanpa bekerja, tanpa merawat keluarga, tanpa memenuhi kebutuhan hidup, tanpa mematuhi peraturan yang sudah ada. Tanpa akal budi, semua ibadah yang kita lakukan hanya berujung pada kekacauan, atau paling tidak, kepincangan dalam kehidupan. Saya rasa, semua orang tak menginginkan hidup yang pincang.
4. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap kekuatanmu.
Apakah kekuatan yang dimaksud di sini adalah melakukan segalanya dengan kekerasan? Bukan. Maksud dari kekuatan di sini adalah, kemampuan kita. Kasihilah Tuhan Allah sampai dengan ujung kemampuan. Jangan memaksakan lebih dari itu, dan jangan pula memberikan kurang dari itu. Artinya, kita harus mengasihi Tuhan sesuai dengan apa yang telah dikaruaniakan kepada kita.
Nah, sekarang kita udah melihat rincian semua bentuk kasih yang diinginkan Tuhan Allah dari kita. Sekarang, kalo kita lihat di kehidupan sehari-hari, banyak orang –termasuk saya- mengasihi Tuhan Allah tidak dengan keseluruhan detail yang diminta olehNya. Ada yang hanya melakukan satu, dua atau tiga.
Contoh kasus : Masalah GKI Yasmin. Ya, saya akui bahwa mereka memang mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan jiwa. Saya bisa lihat dari bagaimana mereka rela dihina, dimaki bahkan diserang secara fisik karena imannya. Dan saya rasa, itu memang harga yang harus dibayar untuk mengasihi Tuhan Allah.
Mereka juga sudah mengasihi Tuhan Allah dengan segenap kekuatan mereka. Di semua persidangan, mereka menang. Bahkan sampai tingkat Mahkamah Agung pun, GKI Yasmin menang dan memang berhak untuk mendirikan gereja di tempat yang dimaksud.
Pertanyaan saya adalah, apakah mereka sudah mengasihi Tuhan Allah dengan akal budi mereka? Menurut saya pribadi, tidak. Mereka tahu bahwa mereka berhadapan dengan manusia bebal yang tidak akan mendengarkan akal budi. Mereka tahu kalau mereka berhadapan dengan manusia intoleran. Mereka tahu bahwa mereka berhadapan dengan manusia yang secara terang-terangan memang membuang pikiran mereka. Lantas kalau mereka sudah tahu akan itu, kenapa masih “berjuang” untuk mendirikan gereja di situ? GKI Yasmin sudah melakukan semua yang mereka bisa dan mereka mampu, ketika dihadapakan pada jalan buntu seperti sekarang, sudah, kebaskanlah debu yang ada di kakimu dan pergilah dari situ. Jangan lupakan bagaimana ketika Yesus mengutus ketujuhpuluh muridNya. Dia berpesan, jika ada rumah yang menolak kehadiranmu, maka pergilah, jangan tinggal berlama-lama. Di sinilah letak akal budi yang dimaksud oleh Tuhan Allah. Pakailah akal budi yang kita miliki. Jangan cuma menjadi pajangan.
November 2012
7 posts
Mungkin cuma aku yang berpikir bahwa merindukan itu adalah sesuatu yang menyenangkan tapi juga menyakitkan. Menyenangkan, karena saat ini aku masih punya kau, untuk kurindukan. Menyakitkan, aku ingin memelukmu saat ini juga.
Mungkin cuma aku yang berpikir bahwa merindukanmu adalah bentuk penyiksaan diri yang paling kunikmati. Seperti halnya rokok. Aku menikmati setiap tarikan asap yang kumasukkan ke dalam paru-paruku; demikian juga aku menikmati setiap resapan rindu yang kumasukkan ke dalam hatiku.
Mungkin cuma aku yang berpikiran bahwa merindukanmu adalah salah satu caraku untuk menjaga kewarasan dan kesehatan jiwaku. Iya, dengan merindukanmu, aku tahu mana yang harus kuberikan untuk diriku, diriku dan diriku.Egois? Ya. Karena hanya kaulah satu-satunya di hidupku.
Mungkin cuma aku satu-satunya yang berpikir bahwa merindukanmu adalah kelayakan yang harus kupertahankan, selamanya.
October 2012
12 posts
Lifeless life.. The unbreathable air.. And the bed of stone. Every second, since you are not here.
I’ve been waiting to love you. To love you as much as I can give, as much as I have.
I’ve been waiting for you. To be the one and only. The last to give scratches in my heart.
I’ve been looking for the moment to catch you. To be the man you’ll always run to every time you’re sad and glad.
I’ve been looking for a day for me to hand this heart to you. The day I know for sure that it worth any risk.
I’ve been looking for you. Every now and then. To be the other part of you. To be the rainbow of your life.
I’ve been searching for a peace of mind. A state that I can clearly state that you’re in my mind. Always.
I’ve been searching for the rainbow. To put it on the wall of my life. To make it brighter.
I’ve been searching for happiness. To make sure, the day I met you, would be the day we share ours. Together.
I’ve been looking for us.
Aku ingin :
- berhenti melangkah, sejenak; kemudian
- merenung sejenak tentang diriku sendiri; lalu
- sedikit berkhayal tentang apa yang akan kulakukan terhadap diriku; sambil
- memikirkan bagaimana cara terbaik untukku beranjak dari tempat ini; tanpa
- mengosongkan diriku; atau
- membuat diriku tersiksa dengan hal yang tak perlu; apalagi
- membiarkan orang lain untuk mengatur hidupku; tapi
- ada baiknya aku segera bergerak; karena
- hidup tak akan menungguku untuk melakukan sesuatu.
“Menyerahlah kalau memang sudah waktunya menyerah. Tak ada gunanya kau memaksakan dirimu untuk terus melawan apa yang kau sendiri tau kau tak akan pernah bisa melawan. Apa gunanya bagimu? Apa dengan terus melawan kau akan bisa menang? Hadapilah kenyataan kalau tak semua hal bisa kau hadapi. Dan akui juga, bahwa saat ini kau harus berlutut, mengakui kekalahanmu dan mulailah untuk memulai yang baru. Jangan paksakan dirimu melakukan sesuatu yang kau tak sanggup. Kau ingin mengubah segalanya? Ingat, kau bukan Tuhan. Bahkan Tuhan pun akan berpikir puluhan kali untuk mengubahmu. Kau terlalu bebal. Kau menghadapi semua hantu dari masa lalumu. Hal yang kau sepelekan, kau anggap kecil dan tak pernah kau perhatikan. Menyerahlah. Hidupmu sudah berakhir.”
Sebuah surat dariku, untuk diriku.